Satu Click Bikin Asyik

Sayyid Ibrahim Ba’abud

Oleh :Ahmad Muzan MPd.I

Tokoh Dakwah Melalui Pemaknaan Budaya

Dakwah yang secara harfiah berarti mengajak, adalah proses transformasi ajaran dan nilai-nilai Islam dari seorang atau sekelompok kepada orang lain dengan tujuan agar seseorang atau sekelompok orang yang menerima transformasi ajaran dan nilai-nilai Islam itu terjadi pencerahan dalam iman dan perilakunya.

Dakwah dapat juga dimaknai dengan upaya menciptakan kondisi yang kondusif untuk terjadinya perubahan pikiran, keyakinan, sikap dan prilaku ke arah pikiran, keyakinan, sikap dan prilaku yang lebih baik. Dengan kata lain, dengan adanya dakwah seseorang atau sekelompok orang akan berubah pikiran, keyakinan, sikap dan prilakunya ke arah yang lebih positif yaitu ke arah yang sesuai dengan ajaran atau nilai-nilai Islam.

Misalnya dari tidak mengenal tuhan ke mengenal Tuhan, dari bertuhan banyak ke Tuhan satu, dari tidak shalat menjadi shalat, dari berprilaku jelek menjadi berprilaku baik, dari kondisi miskin yang pasrah terhadap nasib menjadi sadar dan mau merubah nasib dan sebagainya. Oleh karena itu, dakwah hendaklah dikemas dengan baik sehingga mampu menarik perhatian yang diajak misalnya dengan mengkompromikan nilai-nilai atau ajaran Islam dengan nilai-nilai tradisi atau budaya lokal.

Pendekatan kompromis ini dalam beberapa kajian dakwah pernah dilakukan oleh para Wali Sanga dalam penyebaran Islam di tanah Jawa yang sebelumnya memang kental akan nilai-nilai budaya Hindu dan Budha (meskipun tentu ada ajaran-ajaran Islam yang tidak bisa dikompromikan seperti tata cara shalat).

Para wali tidak berusaha secara frontal dalam menghadapi masyarakat setempat, tetapi ada strategi budaya yang dikembangkan agar Islam bukan merupakan sesuatu yang asing bagi masyarakat setempat, tetapi merupakan sesuatu yang akrab karena sarana, bahasa dan pendekatan yang dipakai merupakan hal-hal yang sudah dekat dengan mereka seperti selamatan, kenduri, mitoni dan sebagainya.

Pendekatan-pendekatan yang kompromis inilah yang melahirkan banyak produk budaya dalam masyarakat, yang tentu saja mengandung ajaran-ajaran disamping seni dan hiburan yang dapat menyampaikan misi Islam yang rahmatan li al ‘alamin.

Sebagaimana dipahami bahwa secara garis besar tujuan NU, adalah ,Menegakkan ajaran Islam menurut paham Ahlussunnah Wal Jama’ah di tengah-tengah kehidupan masyarakat, dengan usaha anatara lain ; bidang agama, melaksanakan dakwah Islamiyah dan meningkatkan rasa persaudaraan yang berpijak pada semangat persatuan dalam perbedaan.

Di bidang pendidikan, menyelenggarakan pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, untuk membentuk muslim yang bertakwa, berbudi luhur, berpengetahuan luas. Di bidang sosial-budaya, mengusahakan kesejahteraan rakyat serta kebudayaan yang sesuai dengan nilai ke-Islaman dan kemanusiaan.

Di bidang ekonomi, mengusahakan pemerataan kesempatan untuk menikmati hasil pembangunan, dengan mengutamakan berkembangnya ekonomi rakyat.

Dakwah merupakan salah satu tujuan dari usaha NU semenjak awal didirikan. Bagi NU Cabang Wonosobo yang berdiri tahun 1931M, dakwah juga menjadi garapan pertama Jam’iyah tersebut. Wonosobo merupakan sebuah daerah yang berada diantara dua pegunungan besar yaitu sindoro sumbing serta deretan gunung perahu serta pegunungan lain, pada masa lalu adalah pusat peradaban agama Hindu dan budha pada masa lalu.

Pengaruh Hindu Budha pada masa tersebut tentunya masih ada yang melekat dalam masyarakat.dua garapan besar dihadapi oleh pengurus NU Wonosobo di era tahun 30 an. Pertama, mendakwahkan islam ‘ala ahlussunnal wal jama’ah melalui wadah jam’iyah NU kepada masarakat yang masih kental dengan budaya hindu budaha.

Kedua, mengajak masyarakat yang belum memeluk agama islam, untuk mengimani agama tauhid. Adalah aliran kepercayaan di masarakat Wonosobo yang begitu dominan pada masa tersebut.

Kenyataan menunjukkan bahwa masarakat Wonosobo memiliki kekayaan budaya yang luas dan beragam. Keluasan dan keberagaman tersebut ditunjukkan dengan keberadaan budaya desa, budaya rakyat disamping budaya luhur, yang masing-masing memiliki pola hidup dan perkembangannya sendiri.

Diantara budaya yang berkaitan dengan religi dan masih kuat dilaksanakan pada masyarakat khususnya Wonosobo sampai saat ini adalah Padusan (menjelang Ramadhan), Muludan (memperingati lahirnya nabi) dan sebagainya, yang berhubungan dengan kala rotasi dalam kehidupan manusia seperti pernikahan, mitung wulan (hamil 7 bulan), selapanan (35 hari setelah kelahiran), Sunatan, Tahlilan dan sebagainya, yang berhubungan dengan pekerjaan seperti bersih desa, yang berhubungan dengan kebutuhan insidental seperti masang molo, menempati rumah baru, ngruwat dan sebagainya.

Pemaknaan budaya tersebut di atas menjadi sangat penting dalam kaitannya dengan dakwah, sehingga masyarakat memahami maksud dan tujuan melaksanakan ritual-ritual tersebut disertai dengan pengamalan nilai agama.

Beberapa budaya yang telah melekat pada masrakat Wonosobo antar lain; Pertama, Padusan adalah budaya masyarakat Islam yang dilakukan menjelang datangnya bulan Ramadhan. Padusan biasanya dilakukan secara bersama-sama di sebuah tempat seperti di sendang, kolam renang dan lain sebagainya dengan tujuan mensucikan diri dalam hal ini mensucikan badan dari kotoran-kotoran yang melekat pada tubuh, sehingga ketika melaksanakan puasa tubuh telah menjadi bersih dan suci.

Sesuai dengan namanya ”padusan” yang berasal dari kata adus (bahasa Jawa) berarti membersihkan diri dengan air. Jika dirunut dari ajaran Islam padusan memang disunatkan, yaitu sebelum melaksanakan puasa Ramadhan setiap muslim disunatkan membersihkan diri dengan mandi besar.

Hal ini jelas bahwa padusan dalam budaya Jawa merupakan akulturasi antara budaya Jawa dengan ajaran Islam. Kedua Kenduren merupakan tradisi/budaya Jawa yang sampai saat ini masih banyak ditemukan di masyarakat khususnya masyarakat yang tinggal di pedesaan. Kenduren dilaksanakan setiap ada hajatan seperti pernikahan, sunatan, kematian, membangun rumah dan sebagainya.

Unsur-unsur yang harus dipenuhi dalam membuat kenduri sangat dipengaruhi oleh jenis hajatan yang dilakukan. Ketiga Budaya Lengger, Kuda lumping (embleg), dan segalam macam kesenian masarakat yang mempunyai nama dan istilah yang berbeda beda merupakan tradisi asli masyarakat Wonosobo yang telah melekat dan mendarah daging.

Menghadapi masrakat yang begitu majemuk dengan budaya yang bermacam macam, Pengurus NU Wonosobo tentunya mempunyai setrategi sendiri dalam mengajak mereka dari yang sudah bergama islam, maupun yang belum mengenal islam sama sekali.

Adalah Sayid Ibrahim, Rois Syuriah NU Wonosobo yang pertama, diceritakan dari berbagai sumber dulu pada masa awal pendirian NU beliau mempunyai hajat untuk mengadakan acara resepsi Sunatan salah satu putra beliau. Sebagai seorang yang kaya, dan tokoh masarakat acara tersebut diadakan secara meriah bahkan mengundang beberapa kelompok kesenian yang ada di masarakat seperti lengger, Embleg, rudat dan kesenian lain yang dianggap tidak mencerminkan ajaran islam. Tindakan Sayid Ibrahim tersebut kontan mendapat reaksi yang negatif dari masarakat yang berujung pada pengucilan dirinya. Sayid Ibrahim tak bergeming dengan gagasan tersebut. Pada era itu terdapat para faunding father NU Wonosobo seperti Kyai Hasbullah Bumen, Kyai Abu Jamroh, Sayid Hasan Segaf, Ustadz Abu Ja’far dan ulama yang lain. Tapi saatnya acara tersebut diadakan, dengan menghadirkan para kelompok kesenian tradisional yang kebetulan para pemainnya belum mengenal islam sama sekali. Banyak masarakat yang menghadiri resepsi tersebut, namun banyak juga yang mencibir tindakan Sayid Ibrahim. Selang beberapa waktu kemudian, diluar dugaan masarakat, semua pemain kesenianLengger, Embleg dan sejenisnya yang kebetulan belum mengenal ajaran islam, jangankan sholat ”raup” saja mereka tidak pernah. Secara berbondong bondong mendatangi rumah Sayid Ibrahim untuk mengaji dan masuk Jam’iyah NU. Otomatis mereka memeluk agama islam. Sungguh setrategi yang sama sekali diluar dugaan masarakat.

Apa yang dilakukan Sayid Ibrahim dan Ulama yang lainnya pada masa tersebut adalah sebuah setrategi dakwah dengan pemaknaan budaya. Sebuah pemaknaan dari proses penyerbukan panjang seorang yang telah mencapai tempat tertentu. Dakwah disampaikan dengan tetap mengedepankan nilai ahlussunnah wal jama’ah yang mengedepankan nilai tawazun, ta’addul dan tasammuh. Hingga saat ini, banyak di Wonosobo para pemain kesenian adalahmereka pemeluk islam dan kebanyak mereka adalah warga nahdliyin.

Beberapa catatan untuk bahan perenungan bagai kita, dengan apa yang dilakukan Sayid Ibrahim dan ulama pendahulu NU Wonosobo. Bahwa mereka memahami dakwah adalah sebuah proses transformasi ajaran atau nilai-nilai Islam. Karena dakwah bukan tujuan tetapi sebagai proses, maka NU harus pandai-pandai mencari metode yang dapat menarik perhatian masarakat agar dakwah berhasil dan mengenai sasarannya. Salah satu metode yang cukup menarik yaitu metode pemaknaan budaya, sebagimana yang dilakukan pendahulu NU Wonosobo. Metode ini sebenarnya bukan baru tetapi sudah cukup lama ada yakni sejak para Wali Sanga mengajarkan ajaran-ajaran Islam di Pulau Jawa. Namun dalam perjalanannya berhenti dan terputus di tengah jalan. Karena berhenti dan terputus di tengah jalan maka para pemeluk-pemeluk Islam yang tidak mengerti akulturasi antara budaya dengan ajaran Islam yang disampaikan oleh para wali menjadi dipahami apa adanya, maka kemudian muncullah apa yang disebut dengan faham sinkretisme. Oleh karena itu upaya memaknai kembali budaya-budaya religi menjadi sangat penting untuk kepentingan dakwah saat ini.

Share biar yang lain tau