Satu Click Bikin Asyik

Romo Mangun dan Pesantren

Oleh: Ahmad Muzan MPd.I

foto: www.Salamyogyakarta.com

Sebagai lembaga pendidikan Islam yang mengandung makna keaslian Indonesia (indigenous), posisi pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam merupakan sub system pendidikan nasional. Karena itu, pendidikan pesantren memiliki dasar yang cukup kuat, baik secara ideal, konstitusional maupun teologis.

Landasan ideologis ini menjadi penting bagi pesantren, terkait eksistensinya sebagai lembaga pendidikan yang sah, menyejarah dan penunjuk arah bagi semua aktivitasnya. Selain itu landasan ini juga dijadikan sebagai acuan bagi pesantren untuk bersikap dalam menghadapi kemajuan perubahan zaman.

Sedangkan dasar teologis pesantren adalah ajaran Islam yakni bahwa melaksakan pendidikan agama merupakan perintah dari Tuhan dan merupakan ibadah kepada-Nya. Di samping itu pendidikan pesantren didirikan atas dasar tafaqquh fiddin, yaitu kepentingan umat untuk memperdalam ilmu pengetahuan agama.

Pendidikan pesantren juga bertujuan menekankan pentingnya tegaknya islam ditengah-tengah kehidupan sebagai sumber utama moral atau akhlaq mulia. Jika kita berfikir secara alternatif dan otomatis maka, Islam dapat menggantikan tata nilai kehidupan bersama yang lebih baik dan maju.

Pendidikan islam juga dapat melengkapi kekurangan, meluruskan, yang bengkok atau memperbaiki yang salah atau rusak dan memberikan sesuatu yang baru yang belum ada dan diperlukan.

Boleh jadi hal ini yang menyebabkan Romo Mangun menaruh simpati yang begitu besar pada Pesantren. Sehingga ada sebuah anekdot yang berkait dengan Romo itu sendiri.

Dalam Buku -Kotak Hitam Sang Burung Manyar dikisahkan, Suatu hari Romo Mangun diundang untuk memberi rekoleksi para frater. Ketika mulai memberikan konferensi, ia sudah menampilkan wajah kurang simpatik.

Ia berkata, ”Anda adalah calon-calon pastor alias calon-calon

aristokrat atau bangsawan gereja. Pernahkan Anda baca dalam Injil bahwa yang sering membenci Yesus adalah para imam? Saya prihatin dengan keadaan sekarang, karena para frater seperti radio satu band yang hanya tahu Panti Rapih, kapel, dan kampus.”

Keadaan mulai memanas bahkan ada peserta yang mulai

marah. Tetapi Romo Mangun malah melanjutkan, ”Saya punya ide, nanti sesudah doa malam, bagaimana kalau seminari ini dibakar? Sesudah itu benteng yang membatasi seminari dengan masyarakat dirobohkan.

Saya ingin seminari seperti pesantren. Para santri itu di samping belajar ngaji atau sekolah, masih memasak dan hidup bersama masyarakat.

”Seorang frater yang tidak bisa menahan emosi bertanya, ”Apa Romo sedang punya masalah kok sejak tadi marah-marah”.

Dengan santai ia menjawab, ”Ya betul! Ada keprihatinan yang

sangat mendalam dalam diri saya.”

“Masalah keprihatinan apa Romo?” jawab para frater berbarengan penuh keingintahuan.

“Saya prihatin tentang kalian. Karena calon gembala umat,

tidak pernah dilatih untuk ajur-ajer dengan masyarakat.

Terlalu banyak dijejali filsafat dan teologi,” lanjutnya.

Suasana tenang sebentar dan kemudian Romo melanjutkan

pertanyaan, “Siapa yang pernah memimpin rekoleksi para bakul tempe? Siapa yang melayat kalau ada tetangga kita meninggal?

Sementara di luar tembok seminari banyak orang menderita kesusahan, di sini serba kecukupan.“

Pertanyaan yang bagaikan metraliur (berondongan peluru—

red) itu, membuat para frater tertunduk sambil membenarkan

dalam hati. Namun Romo Mangun belum mau berhenti,

”Pakaian dicucikan, lantai kotor ada yang ngepel, jendela

pecah panggil pegawai. Lalu, kalian itu mau jadi gembala macam apa? Belajar untuk hidup memasyarakat, apalagi menjadi gembala itu mesti dimulai bukan hanya dipikirkan.”

Jadi, jika room saja begitu gandrungnya dengan pendidikan pesantren, bagaimana dengan kita?

Share biar yang lain tau