Media Hiburan Wonosobo Punya

Mendaras artikel artikel Kyai Sahal

DIASPORA ISLAM DAMAI -15
(Mendaras artikel artikel Kyai Sahal)
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Oleh: Ahmad Muzan MPd.I

Karenanya, kita mendapati fiqh sebagai penuntun kehidupan paling praktis dalam islam, membicarakan empat aspek pokok kehidupan manusia. (Demikian dalam pendahuluan nuansa fiqih sosial). Selanjutnya dikatakan, satu diantarannya adalah masalah ubudiyah yaitu mengurus langsung hubungan transedental manusia dengan penciptanya, (semisal sholat, wudhu’).

Kemudian munakahah, jinayah dan muamalah. Ketiganya ini mengurus aspek kehidupan yang mempunyai korelasi langsung dengan pengelolaan kehidupan materiil dan sosial yang bersifat duniawi.
Jika dalam prakteknya belum mencapai tujuan yang dimaksud maka, bolehjadi ada ketimpangan dalam praktik.

Maka upaya yang diperlukan antara lain, mengubah wawasan masyarakat tentang fiqh secara utuh dan menyeluruh, tidak saja pada masarakat awam, tetapi terhadap kelompok masarakat yanh merasa telah mampu memahami fiqh secara benar. Tuturnya kelompok terakhir ini adalah memposisikan fiqh sekedar sebagai kodifikasi atau kompilasi hukum islam. Dalam pandangan ini, fiqh adalah kompilasi hukum yang sepenuhnya laku. Bahkan berpanfangan fikih sama kuat kedudukannya dengan dua sumber utama umat islam. Hal ini merupakan satu pandangan yang tidak proporsional. Kedua kelompok ini sebenarnya masih dalam tataran yang sama. Yaitu, adalah sesuatu yang tekstual, statis dan tidak mengikuti perkembangan zaman.

Padahal dilihat dari definisi fiqh saja mengandung pengertuan al muktasab atau yang digali. Menumbuhkan pemahaman bahwa fiqh lahir melalui serangkaian proses sebelum akhirnya dinyatakan sebagai hukum yang praktis.
Diantara pandangan pandangan yang demikian luas, . Pada akhirnya menggelitik penulis untuk senantiasa mempelajari karya karya beliau. Termasuk tatkala bertatap muka dengan beliau, tentang pemikiran keislaman yang sedang berkembang saat itu.

Perjumpaan itu membawa kesan yang teramat mendalam sebelum akhirnya bertemu beliau pada acara konferensi besar NU di Wonosobo, dalam kondisi yang kurang begitu sehat, penulis dapat sowan di kamar beliau dalam kondisi tidur dan hanya mencium tangan seraya beliau bertanya, “sopo kiye” saya menjawab seperlunya dan hanya bilang nyuwun berkah pandonga kagem sedoyo Mbah Kyai. … serayu mengagnguk dan itulah perjumpaan terakhir dengan Rois Am PBNU. Dua bulan kemudian beliau wafat. lahul Fatihah.

Wonosobo, 15 Ramadlan 1439

Share biar yang lain tau

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.