Satu Click Bikin Asyik

Memaknai Menep

Burung-burung sawah berkicau merdu, kang Jumal kembali memainkan budengannya lirih-lirih. Kang Iman yang berada di sampingnya sedari awal yang memang sudah asyik tandang dongengan sesekali ikut terbawa arus nada-nada indah membuat dirinya liyer-liyer ingin beranjak tidur, namun ini di pematang sawah yang langsung niat pun diurungkan. Ya, memang duduk di atas gubuk sungguh nikmat dan cocok untuk mapan legerengan.

“Eh, kang saya njur teringat perihal menep juga, yang dapat diibaratkan menep itu seperti paku yang masuk kedalam. Orang kalau menep itu tidak mudah goyah hatinya.” kata Kang Iman sembari menyandarkan punggungnya di bambu dinding gubuk.

“Nah memang seperti itu kang, menep memang sebuah proses pribadi sebagai jalan menuju kepada gusti Allah sebab segala tujuan tak lain kan ya kepada Allah ta kang? “

“Lhaiya kang kudu ngono..”

“Makanya menep itu bukan sebuah tujuan, tetapi sebuah proses, yang namanya proses pun perlu belajar setitik lirian titi, setiti, ngati-ati..” tukas kang Jumal sesekali menghisap rokok lintingannya.

Kang Iman yang sedang melinting tembakau untuk dijadikan teman dongengan hanya manggut manggut, tangannya meracik dengan teliti menaburkan bumbu bumbu dengan kadar keinginannya. Seakan sudah paham tata letaknya tangannya yang lincah memainkan kawung untuk di lintingkan ke tangan selesai dirasa cukup bahan bahan ditaburkan. Dengan sigap tak begitu lama lintingannya pun jadi, tinggal menyulutnya dengan korek dolo yang sudah agak karatan dimakan zaman.

“Hmm.. iya kang, apalagi di tengah hiruk pikuk yang disebut politik yang hari ini menghalalkan segala cara untuk membenarkan kepentingannya, mem-branding tokoh yang di pupur-pupuri di bedaki, di percantik yang aslinya kurang tau apa-apa lanjut di suguhkan ke khalayak seolah-olah sebagai tokoh yang baik seakan dewa penolong. Maka dibutuhkan menep untuk menanggapi hal hal semacam itu”

Ceklek..ceklek.. terrr.. ceklek.. terr.. ceklek.. korek yang tak kunjung menyala apinya, kang Iman pun mengayun-ayunkan mungkin agar bahan bakar didalamnya merembesi sumbu diatasnya.

Ceklek. Ceklek.. terrr.. ceklek.. ceklek.. ceklekk.. terr…

Sudah ke lima kali kang Iman yang mencoba tapi tak kunjung menyala. Nah, tepat di hitungan percobaan yang ke-enam serta dalam hati kang Iman kalau sekali lagi koreknya tak mempan maka dipastikan riwayat korek ini mbuh-mbuhan. Namun takdir korek ini masih terselamatkan, di percobaan yang ke enam ini berhasil menyulut rokok lintingan kang Iman ini, mungkin koreknya sengaja menggoda dengan ingin menyala pada ceklekan yang keenam- senada dengan rukun Iman yang enam dengan digathukkan dengan nama pemilik koreknya, Kang Iman. Ah sungguh korek yang ndrama. #Umpamane.

“Ya mulai nyicil-nyicil ya ta kang Jumal, dengan mempersiapkan diri untuk berproses meruwat diri sendiri untuk menjadi yang lebih baik dan perlu berpikir untuk menjadi bagian dari sejarah yang baik untuk anak-putu kedepan kelak, diposisi inilah yang perlu dipikirkan dan sebagai bahan refleksi diri ya..” sssspt .. buuul buull… asap melambung keluar dari mulut kang Iman beriringan kalimat thoyibbah pelan terdengar.

“Memang ketika kita membahas perihal menep, erat kaitannya tentang hati, ikhlas, sabar dlsb. Yang mana ketika membahas hati tentu tidak akan segera menemui titik akhir, tapi kita tetap berusaha, seperti yang sampean katakan tadi…”

“Tetapi yang saya tangkap dari obrolan ngalor-ngidul kita ini bahwa jiwa yang menep adalah jiwa yang tenang.  Muthmainnah. Hati yang damai yang telah menerapkan rodlitan mardliyah ridho biridho wis mantep pokoke dengan qudrohe gusti. Dimana seseorang itu sudah matang, utuh, seimbang,dan bijaksana. Tandas kang Jumal sembari memites rokoknya.

            Sunyi sepi diantara mereka… angin sepoi-sepoi membuat rumput ikut bergoyang dengan syahdu.

“Ealah kang Masya Allah” .. glutak.. terperanjat kang Iman dari tempat duduknya. Dirinya menyadari matahari yang semakin penther  dan ia lupa bahwa sebenarnya ia ke sawah untuk menyiangi tandurannya, lupa asyik masuk dongengan dengan kawannya, Kang Jumal.

Dengan grusa-grusu dirinya pamit ke sawah garapannya. “Kang saya pamit ya matur nuwun..” kang Iman pamit dengan lari-lari kecil.

Kang Jumal melihat perilaku kawannya lantas menjawab, “wah iya kang ati-ati..” melihat perilaku kawannya ia hanya senyum menahan tawa sembari melanjutkan garapannya.

Magelang, 22 Desember 2018

Share biar yang lain tau

    3 Comments

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.