Satu Click Bikin Asyik

(Mbah Liem yang ‘Tukang Parkir’#2

DIASPORA ISLAM DAMAI – 5
(Mbah Liem yang ‘Tukang Parkir’)
Oleh: Ahmad Muzan MPd.I

Menjelang berakhirnya kekuasaan Soeharto, dan situasi politik semakin tidak menentu. PBNU menginstruksikan agar diadakan istighotas di berbagai daerah. Salah satunya PWNU Jawa Tengah yang ditempatkan di Simpang Lima Semarang. Istighosah yang disebut dengan istighosah kubro itu dihadiri warga nahdliyin Jawa Tengah lengkap dengan pengurus NU dan badan otonomnya.

Istighosah yang diawali dengan sima’an al Quran oleh para santri dan Kyai Turmudzi dari Semarang yang hafidz itu dimulai pukul tujuh, namun warga nahdliyin yang datang sehari sebelumnya atau pada malam menjelang istighosah telah mulai memenuhi arena lapangan simpanglima.

Dilanjutkan dengan istighosah yang dipimpin Rois Syuriah NU Jawa Tengah, diakhir acara diadakan doa dari para ulama kharismatik secara bergiliran. Antara lain KH.Sahal Mahfudz, KH.Muntaha, KH.Abdullah Salam, KH.Ahmad Abdul Hamid dll, serta tidak ketinggalan Mbah Liem.

Sebagaimana biasanya Mbah Liem adalah sosok Kyai yang suka membuat ‘kegaduhan’ acara, ( setidaknya penulis menjumpai dalam tiga acara besar dan penting). Ketika diminta untuk berdo’a dengan memakai celana jeans dan baju hem putih yang ada simbol merah putihnya serta topi yang digunakan, beliau mondar mandir di panggung, dengan bahasa yang diterjemahkan oleh putranya Gus Jazuli beliau mendoakan bangsa ini, dan berkali kali NKRI harga mati yang diukuti oleh para peserta istighosah dengan suara yang lantang. Ditengah situasi yang demikian datanglah Gus Dur diikuti rombongan Mbak Tutut putri pak harto dan beberapa menteri Kabinet Pak Harto.

Setelah istighosah selesai dilanjutkan dengan acara seremonial diawali dengan bacaan al Quran oleh Kyai Musyafa salah seorang Pengurus NU yang memiliki suara emas, atas permintaan Gus Dur dilanjutkan salawat nabi. Sambutan dari PWNU diwakili oleh pjs. Ketua Tanfidziyah KH.Masykuri dengan nada penuh humor memecahkan suasana yang begitu terik namun sepanjang acara kota semarang menjadi begitu sejuk.

Tak lupa Mbak Tutut didaulat untuk memberikan sambutan atas nama tamu undangan. Diakhir acara sambutan disampaikan oleh Gus Dur, yang semenjak awal sudah mengeluarkan joke joke yang membuat suasana menjadi begitu cerah. Kali ini Gus Dur hadir dengan memakai sarung cap Gajah duduk yang belum dilepas logonya (penulis melihat sendiri karena duduk tepat di depan panggung yang digunakan untuk sambutan Gus Dur).

Dalam guyonannya Gus Dur menyebut, di NU itu banyak sekali wali sambil terkekeh kekeh dan mengarahkan pandangannya ke Mbah Liem, saking banyaknya wali ada salah satu wali, namanya wali Parkir, hadirinpun tertawa. Gus Dur melanjutkan, itu Mbah Liem, yang langsung berdiri dan melambaikan tangan ke hadirin sambil teriak NKRI harga mati.

Dikemudian hari penulis baru tahu kalau Mbah Liem memang biasa jadi tukang ‘parkir’ atau ‘markiri’ mobil. Namun tidak semua mobil dan tamu yang diparkiri beliau. Hal ini pernah terjadi pada penulis sendiri, ketika bersama rombongan hendak mengadakan acara di Pesantren Al Muttaqin Pancasila Sakti Klaten, mobil yang kami tumpangi diparkiri Mbah Liem. Yang membuat kami semua kaget dan blingsatan karena merasa sangat tidak sopan.

Namun begitulah Mbah Liem dengan segala kebersahajaannya tetap melakukan laku yang terkadang dengan simbol simbol tertentu memberikan pelajaran secara haliyah. Ya memang, hidup ini bagaikan tukang parkir, mobil dengan segala merk, sepeda dengan berbagai jenis semua ditipkan kepada tukang parkir, namun pada saatnya akan diambil juga oleh pemiliknya. Bukankah demikian dengan kehidupan dunia?

4 Ramadhan 1439

Share biar yang lain tau