Satu Click Bikin Asyik

Mbah Liem yang aku tahu

DIASPORA ISLAM DAMAI _ 3
(Mbah Liem yang aku tahu).
Oleh: Ahmad Muzan MPd.I

Di tahun 1992 menjelang diresmikannya Gedung PCNU Wonosobo di jalan Kauman no 13 (dulu). Semua Panitia tengah mempersiapkan diri, dengan segala sesuatu yang berkait dengan acara. Penulis sendiri diberi tugas sebagai salah satu anggota seksi acara.

Untuk memudahkan acara karena melibatkan banyak warga NU, dengan berkoordinasi dengan pihak kepolisian akses jalan di depan Gedung NU ditutup seharu sebelumnya hingga acara usai. Gedung kebanggan warga NU yang dibangun secara swadaya mulai dari infaq Rp. 1000,- hingga yang tertinggi. Gedung itu dimulai saat Rois Dyuriah Gus Munir dan Tanfidziyah Bapak Sabar Jawahir ( keduanya wafat kurang lebih 2 tahun menjelang selesainya Gedung NU).

Ditengah kesibukan panitia menerima sejumlah tamu undangan dan juga warga Nahdliyin, dikejutkan dengan hadirnya sesosok Kyai Nyentrik ‘Mbah Liem’ (KH.Muslim Rifa’i Imam Puro) Klaten. Hadìr bersama pengurus PWNU Jawa Tengah antara lain KH.Drs. Buhori Masruri, Mbah Muntaha, Kyai Nashir Dalhar Tieng (pjs. Rois Syuriah) dan Bupati Wonosobo saat itu Drs.H.Sumadi.

Para panitia dan anak muda NU tertarik dengan penambpilan Kyai yang nyentrik itu, memakai baju hem Putih bercelana hitam dan memakai sepatu ala film Cowboy ditambah memakai tutuo kepala (topi pet) menambah kenyentrikan Kyai ini.

Dialah Mbah Liem, seorang Kyai yang senantiasa mendengungkan NKRI harga mati. Saat itu sudah sering ‘runtang runtung’ dengan Gus Dur. Seorang yang beroenampilan sederhana namun mempunyai kharisma yang sungguh luar biasa. Setiap keruwetan politik hampir pasti beliau memberikan solusi dengan isarat isarat tertentu dengan mata batin bagi jiwa yang telah mencapai maqom tertentu dalam spiritual.

Kyai yang begitu akrab dengan anak muda dari tingkat lokal hingga Nasional, ‘kenyentrikan’ beliau tetap bersahaja dan memasuki relung batin untuk mengahapi persoalan dunia dengan jiwa kesederhanaan. Ya kesederhanaan dengan senantiasa memelihara etika berbangsa dan bernegara. Bahkan topi atau baju yang beliau pakai senantiasa ada simbol bendera merah putih. Sebuah ajakan bagi penulos untuk senantiasa mencintai tanah air Indonesia.

Jiwa kesederhanaan kebersahajaan dalam penampilan seolah mengajarkan bagi penulis untuk tidak memperlihatkan kesalehan dalam penampilan namun jauh dari substansi nilai ajaran agama. Munafik dalam beragama seolah harus ditinggalkan, menampilkan wajah agama yang ramah dengan kesederhanaan itu yang ingin beliau anjurkan.

bersambung…

3 Ramadhan 1439

Share biar yang lain tau