Media Hiburan Wonosobo Punya

Masih ngaji Mbah Sahal dengan Karyanya

DIASPORA ISLAM DAMAI – 14
(Masih ngaji Mbah Sahal dengan Karyanya)
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Oleh: Ahmad Muzan MPd.I

Salah satu tawaran Fikih yang banyak disampaikan Mbah Sahal adalah Fiqih yang menekankan pada maslahah. Jadi tidak hanya pada yeks oriented. Dalam hal ini boleh jadi Mbah Sahal telah memilih ‘ jalan lain’ dalam berfiqh. Imam Asshatibi adalah pilihan yang sering dikutip oleh beliau meskipun secara kontekstualisasi masih dalam teks fiqh imam Syafi’i. Begitu menurut pemikiran beberapa orang.

Dalam renungan penulis boleh jadi Mbah Sahal menjadikan maslahatul ammah menjadi prioritas utama dalam proses pengambilan hukum. Agar kepentingan umum tetap terjaga, maka seorang ahli fikih harus memiliki kepekaan sosial. Dalam hal ini, sering ditemukan bagaimana beliau mampu memilah antara kepentingan umum dan mana yang merupakan kepentingan kelompok, juga kepentingan pemerintah. Dengan prinsip ini maka banyak proses bermasyarakat dan bernegara yang perlu dipertanyakan keabsahannya.

Mengajarkan kepada kita untuk mendinamiskan fiqh yang sesuai dengan situasi dan kondisi serta maslahat umum. Banyak persoalan yang memerlukan jawaban fiqh secara konkrit yang teramat sulit dicari dalam rumusan rumusan baku yang telah menjadi pegangan selama ini. Masalah negara-bangsa, asuransi, bank, pajak, KB, lingkungan hidup dan lain lain banyak yang menuntut kepastian pijakan hukum. Karenanya fiqh tidak boleh berhenti tanpa memberikan sebuah jawaban dan juga harus dinamis. Sebab bagimanapun juga Islam mermuskan bahwa kehidupan adalah amanat uang harus digunakan untuk pencapaian sa’adatuddarain. Dengan segenap penafsirannya.

Pemikiran pemikiran yang cerdas tersebut, masih penulis rasakan tatkala menjelang berdirinya partai yang diinisiasi oleh PBNU, bagaimana beliau mengemukaakan pandangan politiknya dihadapan para Kyai NU dan juga politisi NU di PWNU Jawa Tengah tahun 1998. Penulis bertemu sendiri dengan beliau dan mengikuti ceramahnya.

Sebelum perjumpaan itu dilanjutkan saat tahun 1999 beliau hadir di Wonosobo, ya hadlir di rumah setelah menghadiri sebuah acara di luar kota. Perjumpaan itu yang penulis gunakan untuk menyampaikan kegundahan dan kekangenan penulis pada sosok kyai yang intelek.

Wonosobo, 14 Ramdlan 1439

 

Share biar yang lain tau

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.