Satu Click Bikin Asyik

Lenggeran

Bebrayan Sesrawungan

Bebrayan Sesrawungan

budaya, Entertainment, Lenggeran, What's Hot
Dhuh gones, dhuh gones parikane Adhuh gones wicarane Matur nuwun aja lali Mring Hyang agung Maha Suci Pamrihe, pamrihe padha ngerti Yen uripe diparingi Aja sembah bekti Marang Gusti kang Maha suci Sayup sayup sekilas terdengar suara iringan gamelan bersama selingan parikan dari rumah lik Slamet. Kala itu angin semilir pun tak mau ketinggalan meliuk-liuk seakan menari mengikuti tempo suara yang keluar dari sound system lawas milik lik Slamet. Meski terlihat lawas dan kuno sound system milik sahabat kang Iman ini jangan anggap remeh, sebab sudah dirancang dan di upgrade menyesuaikan zaman now. Lho kok bisa? Tentu bisa. Zaman sekarang apa sih yang tak bisa diubah dibagus-bagusi, wedhus di pupuri, di klambeni atau bisa juga disebut pencitraan? Entahlah. Terpenting s...
Sinau parikan, menyemai harapan #2

Sinau parikan, menyemai harapan #2

budaya, Entertainment, Lenggeran, What's Hot
“Berbicara mengenai parikan, dan harapan saya jadi teringat waktu itu kang, ketika belajar mabur.” Celetuk Lik Slamet. “Wah, masak si lik sinau mabur kaya muridnya Barsesa saja sampean lik. Heuheu” ejek Kang Iman tak percaya. “Lho, sampean menyepelekan saya ya hehe..” “Lah, masa zaman now sinau kok sinau mabur kan gak masuk akal. Kang Iman masih tak percaya.” “Zaman sekarang kan ada kata no pict = hoax nah mumpung sampean sela coba praktekkan lik?“ “Ayoo lik tas-tes! ..” Tantang kang Iman. “Begini begini kang, duduk dulu yang tenang, sah grusa-grusu kaya kit zaman nou saja sukanya instan.. heuheu..” “Monggo sambil disambi kopinya, sik tenang.” Tukas lik Slamet mempersilahkan kang Iman, lalu melanjutkan pembicaraanya. “Mengenai sinau mabur jadi sebenarnya memang bena
Ndhedher parikan, menyemai Harapan

Ndhedher parikan, menyemai Harapan

Breaking News, budaya, Entertainment, Lenggeran, What's Hot
Sambil menyeruput kopinya yang sedari tadi hanya dilihat saja menemani cuaca dingin di lereng Sindoro. Lik Slamet lalu melanjutkan pembicaraanya dengan kawannya. Memang di lereng gunung Sindoro-Sumbing memang hawa dingin sangat mudah dijumpai namun masyarakat sangat mudah bercengkrama dengan hawa dingin, menyesuaikan dengan kondisi tersebut, dari menyeduh kopi maupun teh tetapi dengan genen( menghangatkan badan dengan membakar kayu) sambil dongengan menjadi sebuah kehangatan sendiri bagi masyarakat lereng gunung. "Kita perlu ndedher mengenai parikan lengger sebenarnya kang.. Maksudnya lik?" Tanya kang Iman.. "Ya ndedher, ndedher itu menyemai jika bersanding dengan katresnan, maka bisa diartikan sebagai menyemai sebuah kasih sayang atau cinta kang. Jika menggunakkan bahasa tanam...
Ndedher Parikan Lengger

Ndedher Parikan Lengger

budaya, Lenggeran, Tradisi, What's Hot
“Apabila muncul sebagai bagian kesenian dalam bentuk cakepan wacana parikan memiliki susunan titilaras sesuai dengan situasi seni bersangkutan. Susunan titilaras selalu berdasarkan nada gamelan..”ujar lik Slamet. “Dalam kehidupan sehari hari pun seringkali tidak seluruh parikan diucapkan, terutama pada parikan yang yang telah diketahui secara umum oleh masayarakat, kang.. bagian larik yang sengaja diucapkan dianggap telah diketahui oleh pendengar, seperti parikan.. tak rewangi nuthuk sumur/ mbok menawa metu banyune/.” “Khalayak yang menjadi sasaran atau pendengar telah mengetahui bahwa gatra atau larik lanjutannya adalah tak rewangi totohan umur/ mbok menawa dadi jodhone/”.. parikan ini sering kita dengar pada beberapa babak tari lengger yang kerap tampil di Wonosobo. tandas lik
Nyinauni Parikan Lengger

Nyinauni Parikan Lengger

budaya, Lenggeran, What's Hot, Wisata
Gerimis tipis sore itu membersamai kang Iman berjalan menembus kabut negeri atas awan, dengan berpakaian kaos jersey tim kesayangannya; MU dan hanya dilapisi jaket untuk melindunginya dari angin yang menusuk kulit. Nampak tak gentar olehnya berjalan menuju kerumah sobatnya di ujung gang dari rumahnya, siapa lagi kalau bukan lik Slamet. Tak begitu lama berjalan  dia sudah  berdiri di depan rumah kawanya, tanpa basa basi langsung mengetuk pintu. Dok..dok.. dok.. Ketuk kang Iman. "Assalamu’alaikum lik Slamet lik... dok dok dok.." "Ya, waalaikum salam sebentar.. terdengar suara lik slamet dari dalam rumahnya.." Jegreet.. "owalah sampean to kang, tak kira tamu jauh.." hehehe Sapa lik Slamet membuka pintu sambil mepersilahkan kang Iman. Ayo kang silahkan duduk monggo.. I
Belajar Kembali Parikan Lengger

Belajar Kembali Parikan Lengger

Entertainment, Lenggeran, LifeStyle, Tradisi
: @trexbae28 IF:@estind_n.k   “Oalah, gitu to lik? Baru tahu saya malah. Berarti disetiap larik atau syair yang dilantunkan menyelingi tari lengger dapat di pelajari maupun dikaji lik?” Kang Iman bertanya balik. Ya tentu bisa kang, pertama sebelum kita masuk mempelajari makna perlu kita tahu juntrungannya, syair seperti itu dikelompokkan ke dalam “puisi jawa baru bukan tembang kang.” Lho kok bisa sih lik? “Jadi begini kang, yang dimaksud dengan “puisi Jawa baru bukan tembang”, semata mata didasari pada pola bunyi, termasuk guru lagu, dan pola baku dalam pembacaan, bahasa mudahnya tidak adanya susunan nada. Begitu kang.” Tandas lik Slamet singkat.             “Nah, untuk syair yang dilantunkan ketika Lenggeran itu bisa disebut Parikan kang. Parikan ya suatu
Negesi Tembang Babadan

Negesi Tembang Babadan

budaya, Entertainment, Lenggeran, Tradisi
foto: ig @sandisandoro_94   “Ketika sudah matang dalam memetakan ilmu, maka ketika diberi rakhmat, rizqi yang diberikan Allah maka tidak lain hanya bisa bersyukur apa yang sudah diberikan. Tutur lik Slamet melanjutkan pembicaraanya. Sampean pernah dengar kang lanjutan syiir babadan yang kita sudah  bahas tadi kang?” “eem.ee.. baru sekali sih kang, dengar saja masih remang-remang. Memangnya sampean punya teks nya atau ada rekaman audionya lik? Tukas kang Iman sedikit ragu dan penasaran. “Saya punya dua duanya kang, tapi tak satu pun yang saya bawa, masak saya dolan keangkringan Mbah Wulung kober bawa teks tembangan”. Jawab lik Slamet singkat. “Iya kan mbah?” celetuk lik Slamet kepada mbah Wulung. ‘Sae sae sae lik” kata mbah Wulung sambil mengacungkan jempoln
Belajar Dari Tembang Babadan (3)

Belajar Dari Tembang Babadan (3)

Lenggeran
foto:ig;@nugroho_art “Owalah gitu to lik.” Timpal kang Iman manggut-manggut.Ditambah lagi ada syair lanjutannya yang bunyinya seperti ini kang; “Sun sinau mbangun langgar pinggir kali”.Lha apa itu kang? Sampean mau mendirikan mushola dipinggir kali? Nanti kalau kebajiran bagaimana sudah dipikir sejauh itu kang?Esh esh esh. Sst, sampean diam dulu to kang. Dari tadi nanya terus tak dijeda pula, nanti saya jawabnya gimana? Lik Slamet memotong pertanyaan kang Iman yang nyrocos seperti sepur.Ohh. Iya lik iya, maaf lo saya kan terburu penasaran? Kang Iman membela dirinya. Monggo teruskan?  Pada syair diatas  bermakna "saya belajar membangun mushola di tepi sungai". Tapi akan menjadi wagu jika diartikan secara kata perkata. Saya sudah menebak pasti jika saya mengucapkan syair itu pasti
Belajar Dari Tembang Babadan (2)

Belajar Dari Tembang Babadan (2)

Lenggeran
foto: IG @trexbae Ya sudah saya tak balik dulu kang, gadget saya dayanya habis. Tukas kang Amin sambil nyruput kopi yang terkahir. Sambil membayar dan berbalik arah ingin pulang tak luput tangannya menyahut tempe kemul dengan pergi menggalkan angkringan. Kang Iman aku duluan ya? Ini tempe bayar jenengan heuheuheu.. “Wah kok saya yang jadi bayar kang ?” kang Iman menanggapi kang Amin yang sudah berjalan di selimuti kabut malam dengan sedikit remang remang pantulan cahaya bulan purnama bersinar. “Belum selesai juga ceritanya langsung pergi saja..” Gerutu kang Iman. Lik Slamet yang duduk disebelahnya hanya tersenyum melihat tingkah kawannya itu. “Sudah sudah kang, teruskan saja ngopi mu itu nanti keburu dingin lo?.” Lik Slamet mengawali pembicaraannya sambil menyodorkan gedhang goreng kemebu
Belajar Dari Tembang Babadan

Belajar Dari Tembang Babadan

Lenggeran
foto: IG, @fadol_photographyKetika kang Iman dan lik Slamet sedang asyik dongengan, tiba tiba kang Amin dengan rengeng-rengengsyair lengger, ikut nimbrung duduk di bangku angkringan, tanpa basa basi langsung menyambar sate telur khas mbah Wulung.Terus meneruskan tembangannya Babadana pangeran Gusti kawula/Ya Allah Gusti Allah/E ... Babadana Pangeran Gusti kawula/Ya Allah Gusti Allah/Welasana kawula sun kasihana/Dhuh Gusti Pangeran kula/Ya Allah/Babadana panggenan sun tilasane/. “Hei kang lagi apa sampean? Serius sekali dari tadi.” Teriak kang Iman sambil mencopot headset di telinga kang Amin.“Esstah, sampean ngganggu wong lagi serius saja.” tukas kang Amin sambil membetulkan headsetnya yang hanya dipasang separo saja.Lha mbarang sampean baru datang terlihat sibuk dengan gadgetmu kaya kids