Satu Click Bikin Asyik

Kenangan bersama Prof. Dr.KH.Said Aqil Husen al Munawar

DIASPORA ISLAM DAMAI _ 1
(Kenangan bersama Prof. Dr.KH.Said Aqil Husen al Munawar)

Oleh: Ahmad Muzan MPdI

Pada tahun 1993 sewaktu penulis belajar di IIQ (sekarang UNSIQ) bersama kawan kawan dua tahun sebelumnya mendirikan sebuah majalah kampus dengan nama Shoutul Quran. Pada edisi Maret 1993, setelah rapat dewan redaksi disepakati untuk mengangkat tema Mabadi Khoiru Ummah. Untuk memperkuat dan mempercantik isi tema tersebut, maka diputuskan untuk mewawancarai salah seorang tokoh Nasional yang berada di PBNU. Ditunjuklah penulis yang juga sebagai Pimred untuk mewawancarai tokoh yang belum ditentukan orangnya. Dalam perjalanannya, kebetulan saat itu menjelang pelaksanaan STQ Nasional di Jakarta. Beberapa Mahasiswa IIQ menjadi salah satu peserta dari beberapa Cabang yang ada seperti Tilawah dan Tafsir. Untuk memeprsipkan Pra STQ maka bersepakat untuk menghadirkan seorang Ulama yang ahli di bidangnya. Maka dihadirkanlah DR.KH.Said Aqil Husen al Munawwar ( saat itu belum bergelar Profesor).
Ketika hadir di Wonosobo maka Hotel Arjuna (depan Gedung DPRD) dijadikan tempat penginapan dan koordinasi panitia. Saat itulah penulis berketetapan untuk mewawancarai beliau. Setelah sekedar basa basi dan bahkan sedikit ‘dimarahi’ penulis memulai wawancara dengan beliau dengan tema Mabadi Khoiru Ummah.
Itu konsep punya kami (baca NU) bukan dari yang lain, konsep itu diantaranya dimaksudkan untuk menjadi pedoman dan pegangan serta memotivasi warga dan masarakat untuk menjadi sarana pengembangan masarakat dalam menuju cita cita Pancasila. Jadi untuk berikhtiar memajukan masyarakat dan Negara yang berdasarkan Pancasila. Prinsip itu sebetulnya sudah ada sejak Muktamar di Magelang tahun 1939. Namun baru pada tiga prinsip, as Shidqu (kejujuran), al Wafau bil Ahdi (memenuhi janji), dan at Ta’awun (tolong menolong ). Namun dalam perkembangannya pada tahn 1992 melalui Munas di Lampung, ditambah prinsip al ‘Adalah (keadilan) dan al Istiqomah (konsisten). Semuanya tidak hanya dalam urusan bisnis namun dalam urusan muamalah.
Dalam perjalanan di mobil menuju Kampus beliau juga memotivasi agar senantiasa belajar al Quran kepada ulama ulama Pesantren yang memelihara tradisi Pesantren sebab mereka adalah yang menjaga tradisi untuk menjaga keharmonisan beragama berbangsa dan bernegara.
Begitu sekikas ingatan penulis pada sosok yang dikemudian hari bergelar Profesor dan diangkat menjadi Menteri Agama pada Kabinet Presiden Megawati. Saat itu beliau menjadi Katib ‘Aam di PBNU dengan Rois Syuriah KH.MA.Sahal Mahfudz. Kyai yang bukan hanya hafal no ayat atau surat al Quran, bahkan letak ayat pun beliau mengerti. Sosok Kyai yang mengajarkan kedamaian, menyanpaikan pesan pesan al Quran melalui suaranya yang merdu dan bahasa serta tutur katanya yang indah. Begitu membekas dan menyejukkan untuk diikuti.
Agama bika dipegang okeh ahlinya, memang membawa kedamaian, bukan membawa malapetaka bagi dirinya, apalagi orang lain. Dan al Quran menjadi begitu indah dan membawa kedamaian.. . Semua hanya bisa dicapai dengan ikhtiar mengaji kepada ahlinya.

Share biar yang lain tau