Media Info Dan Hiburan Wonosobo Punya

Gus Munir Bumen Mojotengah Ulama Muda yang Tawadlu’

Wonosobo Gus Munir Bumen Mojotengah Ulama Muda yang Tawadlu’

Diantara deretan para sesepuh NU yang pernah menjadi Rois Syuriah Cabang Wonosobo terdapat seorang yang menjadi Rois Syuriah dalam usia yang masih sangat muda.Beliau adalah Gus Munir atau lengapnya KH.M.Munir Abdullah Bumen Mojotengah.

Walaupun masih muda beliau dipercaya oleh para sesepuh NU yang tergabung dalam Ahlul Halli wal Aqdi yaitu sabuah tim formatur yang dihasilkan Konperensi dan bertugas menunjuk Rois Syuriah dan Ketua Tanbfidziah serta menyusun kepengurusan NU secara lengkap.

Penunjukan itu terjadi pada saat Konferensi NU Cabang Wonosobo Tahun1986. Konperensi tersebut dilaksanakan pasca Muktamar NU di Situbondo yang menghasilkan keputusan sepektakuler yaitu kembali ke Khittoh 1926 serta menerima Pancasila sebagai asas organisasi.

Para sesepuh menyadari bahwa dalam proses sosialisasi Khittoh 1926 serta mengejawantahkannya dalam kehidupan warga nahdliyin diperlukan kader kader muda yang handal serta berilmu yang luas disertai ketawadluan dan semangat dalam berjuang.
Cerdas dan Tawadlu’

Setelah melalui proses yang panjang dan musyawarah dari para Ulama Wonosobo akhirnya menjatuhkan kepada satu pilihan. Pilihan itu jatuh pada Kyai muda Wonosobo yaitu Gus Munir sebagai Rois Syuriah menggantikan KH.Muntaha Al Hafidz . Pilihan itu tidak salah alamat, disebabkan kapasitas Gus Munir yang memang memenuhi Kriteria yang diinginkan oleh para seepuh NU.

Salah satu alasannya adalah kecerdasan dan ketawadluan beliau sebagai seorang Kyai Muda. Kecerdasan itu tercermin dalam setiap gagasan dan programnya yang senantisa mengarah kepada proses pemberdayaan (empowering) masyarakat. Salah satu gagasan beliau yang cukup cerdas adalah tentang pemberdayaan zakat bagi warga nahdliyin yang didapatkan dari para Muzakki (orang yang mengeluarkan Zakat) agar didayagunakan untuk kemaslahatan yang lebih luas.

Kemaslahatan yang luas itu, menurutnya bisa didapatkan dengan cara pengelolaan zakat yang profesional dengan tidak meninggalkan sendi sendi aturan hukum fikih yang berlaku.

Gagasan itu dilatarbelakangi oleh keberadaan warga nahdliyin yang kebanyakan masyarakat pedesaan, dan juga organisasinya sendiri yang tidak terurus dengan rapi. menyebabkan sangat tertinggal jauh dengan umat yang lain.Sarana pelayanan umat seperti Rumah Sakit,Balai Pengobatan,Balai Bersalin,Yatim Piatu dan Panti Asuhan yang memedahi belum dimiliki oleh warga NU Wonosobo.

Dalam pendidikan mulai dati tingkat SD,SMP dan SMA hingga Perguruan Tinggi belum ditata dan mempunyai fasilitas yang mendukung. Ditambah pula dengan sarana dakwah yang belum bisa memanfaatkan teknologi moderen. Ketertinggalan itu menurutnya bisa ditangani dengan mengelola zakat secara professional dan didayagunakan untuk kemaslahatan yang lebih baik sebagai sumber penggalian dana .
Begitulah Gus Munir yang mampu memberikan argumen yang cukup kuat bagi warga nahdliyin terutama para Kyai yang cenderung sekeptis pada saat itu, sebagai akibat masa peralihan NU dari berpolitik praktis beralih kepada tidak memihak salah satu Partai politik secara organisatoris. Pikiran itu melampaui apa yang tidak pernah direncanakan oleh para pendahulu NU Wonosobo dan pengurus NU yang cenderung pada partai Politik dan hanya untuk kepentingan diri dan sesaat.

Gagasan itu pada umumnya hanya dijadikan wacana dan bahan pembicaraan di forum sebagai bahan diskusi yang tidak pernah terwujud pangkal ujungnya. Namun bagi Gus Munir, gagasan itu harus direalisasikan dan dibuat sebagai sebuah proyek yang harus ditangani secara serius oleh para pengelola NU.

Gagasan itu dituangkan dalam program NU Cabang Wonosobo periode 1985 -1989 untuk diproyeksikan dalam jangka waktu 10 sampai dengan 15 tahun ke depan. Namun sayangnya gagasan itu tidak pernah dilanjutkan oleh kepengurusan NU pasca beliau.

Dalam bidang Aqidah yang menjadi pegangan warga Nahdliyin yaitu Ahlussunnah wal Jama’ah beliau juga turut prihatin dengan semakin sedikitnya generasi muda NU yang memahami ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah.Generasi muda NU yang tergabung dalam Ansor, Fatayat, IPNU dan IPPNU dalam setiap pengkaderannya diharuskan mendalamai materi Aswaja.

Materi ini sering diberikan oleh beliau sendiri dan terkadang mewakilkan kepada Pengurus Syuriah yang lain(AhmadMuzan*)

Dihimpun dari beberapa wawancara dan dokumen pribadi dan NU.
Koreksi dan informasi lainnya, ditunggu

*Penulis Buku Fragmen NU Wonosobo

Share biar yang lain tau

    2 Comments

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.