Satu Click Bikin Asyik

Gus Munir Bumen Mojotengah Tokoh Pendidikan yang Inovatif

Oleh: Ahmad Muzan MP.dI

Agar materi yang disampaikan berkesinambungan dan menyeluruh serta terfokus, atas inisiatifnya beliau menulis sendiri beberapa pengertian serta penjelasan seputar keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah.

Pengertian itu meliputi I’tiqod Ahlussunah wal Jama’ah, Ijtihad, Taqlid dan Ittiba’. menurunya Ijtihad adalah pekerjaan yang sangat mulia serta memiliki nilai yang sangat tinggi dalam islam, sehingga harus dipelihara agar tidak jatuh dipermainkan oleh tangan tangan jahil yang tidak bertanggung jawab, sebab jika hal itu terjadi, maka ternodalah kesucian syari’at dan rusaklah ajaran islam serta umatnya menjadi tidak karauan. mengenai taqlied, orang yang belum mengetahui dengan sesungguhnya sering berpikiran apologis dengan menuduh sebagai suatu sikap yang menyimpang dari ajaran islam. orang yang bertaqlied dianggap sebagai orang yang tidak lagi mengikuti Allah dan RasulNya.

Padahal menurut Gus Munir, hampir seluruh umat islam di dunia ini semenjak dahulu hingga sekarang dalam melaksanakan ajaran agamanya adalah melalui jalan taqlied itu sendiri. Kemudian dicarikanlah alasan yang berlandaskan hasil pikiran kelompok yang menuduh itu, yang dianggapnya sebagai buah pikiran yang benar berdasarkan al Qur’an dan Hadits.

Dalam buku itu, dijelaskan pula akan tujuan beliau dalam menjelaskan masalah prinsip dalam islam, tidak bermaksud untuk mengundang polemik dan membangkitkan permusuhan antara pihak yang pro dan kontra. namun untuk menunjukkan hal yang sebenarnya melalui pembahasan yang ilmiah dan rasional mengingat masih langkanya buku yang membahs hal itu.

Di lain pihak buku buku dan tulisan tulisan yang memuat persoalan prinsip dengan secara tidak seimbang dan dengan pandangan subyektif untuk kepentingan kelompoknya banyak tersebar dan mudah di dapatkan .
Keprihatinan beliau atas kondisi tersebut dan keberlangsungan generasi NU, agar mempunyai daya nalar yang kritis terhadap agamanya dan Jam’iyahnya membangkitkannya untuk menunjukkan persoalan secara rasional dan ilmiah dengan berdasarkan nilai nilai kesalafan.

Pesantren Dan Pendidikan
Gus Munir yang dilahirkan dari putra Ulama salah seorang pengasuh Pondok Pesantren di Demak. Sejak kecil telah banyak bersentuhan dengan dunia Pesantren sebagai lingkungannya, ditambah pula dengan belajar ke beberapa Pesantren yang telah mengantarkannya sebagai santri yang juga intelektual.
Ketika awal pengabdiannya di Wonosobo, setelah menjadi menantu dari KH.Masykur seorang Ulama kharismatik di Wonosobo, langkah yang diambilnya adalah membenahi pondok Pesantren yang diasuh oleh orang tua menantunya. Terlebih tidak lama kemudian KH.Masykur wafat, praktis tongkat estafeta Pondok Pesantren dipercayakan kepada beliau.

Dengan mengambil langkah yang bijak beliau menamakan pondok pesantrennya dengan Al Futuhiyah serta membenahi kurikulum pembelajarannya. Beberapa pengembangan dilakukan termasuk sistem pengajaran yang tidak hanya terfokus pada guru, namun juga santri diperankan sebagai peserta didik yang aktif sebagaimana proses pendidikan modern.

Dibawah kepemimpinan beliau, kemudian al Futuhiyah berkembang pesat dengan ditandai semakin banyaknya santri dan juga pelajar yang mengikuti pendidikan di Pondok. Hal itu menjadi indikasi semakin banyak dan tumbuhnya kepercayaan masyarakat kepada Pesantren al Futuhiyah.
Disadari akan banyaknya santri al Futuhiyah yang disamping belajar di Pesantren, juga mengikuti Sekolah formal pada pagi harinya.

Ditambah pula dengan keinginan beliau untuk mencetak alumni yang tidak hanya menguasai ilmu agama, namun juga memiliki pengetahaun umum yang luas. Intinya ingin menciptakan santri yang berkaulitas. Pada tahun 1985 beliau mendirikan Madrasah Tsanawiyah al futuhiyah dibantu dengan para Kyai di lingkungannya.

Disamping tujuan di atas, pendirian Sekolah itu juga dimaksudkan sebagai tempat pembelajaram bagi anak anak warga nahdliyin yang kurang mampu dalam hal pembiayaan sekolah.
Kurikulum yang diterapkan di sekolah ini mengintegrasikan kurikulum yang dibuat oleh pemerintah dalam hal ini Departemen agama untuk memenuhi setandar pendidikan Nasional dan dipadukan dengan Kurikulum Pesantren yang dirancang oleh beliau sendiri.

Ciri utama dalam kurikulum yang dibuat beliau adalah memasukkan unsure unsur pembelajaran dalam Kitab Kuning, dengan penguasaan Nahwu dan Shorof. Ketika pemerintah sedang menggalakkan seluruh siswa untuk mengikuti Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (EBTANAS), dan bagi sekolah swasta harus bergabung dengan Sekolah Negeri yang dimiliki pemerintah. Sementara persaratan yang harus dipenuhi cukup banyak, beliau berani untuk tidak mengikutkan siswanya dalam EBTANAS bertanggung jawab terhadap keilmuan yang dimiliki siswanya bila dibandingkan dengan mereka yang lulus dalam mengikuti EBTANAS. Keputusan yang kontrofersial ini sempat mengundang polemik dilingkungan pendidikan.
Dalam perkembangannya seiring dengan era keterbukaan bagi bangsa Indonesia, salah satunya dalam kebijakan pendidikan. Kebijakan yang dulu pernah ditentang oleh Gus Munir pada gilirannya diganti dengan model pendidikan yang mengacu pada tingkat keberhasilan siswa bukan secara formal, namun juga substansial.

Agaknya apa yang dilakukan oleh Gus Munir pada mas lalu merupakan hasil dari benih penyerbukan yang dialaminya berangkat dari ketajaman rohani dan nalar beliau. (bersambung)
25 Ramadlon 1438H
** Tulisan dirangkum dari beberapa pertemuan penulis dengan beliau lewat pengkaderan dalam ceramah materi Ke NU an dan Aswaja. diantaranya pada 28 Desember 1990 di Gedung Thoriqoh Garung.

Share biar yang lain tau