Satu Click Bikin Asyik

Cerita kearifan Desa Gemblengan

IG: @yakizo_az

Di sebuah wilayah berada di lereng gunung Sindoro terdapat makam kuno oleh masyarakat sekitar dipercaya sebagai makam pendiri wilayah tersebut. Ada 3 tokoh yang menjadi cikal bakal desa ini, Mbah Kiai Gembleng, Kiai Wanabadra, dan Kiai bakung.

Makam Kiai Gembleng dicirikan dengan sebuah makam yang diatasnya terdapat batu memanjang yang kala itu masih ada corak atau tulisan arab pada batu sebelum seperti sekarang ini yang sudah di renovasi diberi cungkup.

Makam Mbah Kiai Bakung tak jauh dari pusara makam Kiai Gembleng, tepatnya berada di bawah pohon beringin besar diperkirakan sudah berumur ratusan tahun dengan di cungkup bilik seperti rumah dan di beri kain putih mengelilingi makam.

Hawa dingin menyeruak bersama harum kembang mawar tak lepas dari tempat ini dan yang terakhir makam dari Kiai Wanabadra.

Menurut cerita turun temurun di masyarakat memang tiga tokoh ini merupakan yang membabat, mbubak wilayah desa ini dengan peran keahlian masing-masing. Misalnya Kiai Gembleng dengan mengajarkan ilmu agama serta ilmu kanuragan dan Kiai Bakung serta Kiai Wanabadra dengan keahlian tata kelola infrastruktur dan tatakenegaraan.

Nah, nama wilayah desa itulah yang kemudian bernama Gemblengan dengan diambil dari tokoh yang membabat wilayah tersebut. Ada versi lain diambil dari kata Gembleng atau tempat penggemblengan, penggodokan ksatria,tempat berlatih perang para pasukan Diponegoro pada saat itu dibuktikan dengan tabah lapang luas yang sekarang menjadi lapangan desa.

1980-an sebelum menjadi lapangan seperti sekarang ini, dulu sudah ada tanah lapang dan diatas tanah lapang terdapat tempat yang masyarakat menyebutnya dengan kuburan kewan (hewan). Jadi jika dikaitkan dengan beberapa cerita  Ada beberapa jalur yang menghubungkan dengan wilayah Gemblengan. Yaitu dari sisi utara dengan jalur menuju Batang kemudian ada jalur Bedakah, Jalur Kalikuning, dll yang pada saat itu Gemblengan menjadi pusat wilayah transit jika akan menuju lewat jalur tersebut. Serta menjadi jalur sutra perdagangan dibuktikan dengan penemuan kuburan orang tionghoa.

Pada era kolonial Belanda pun wilayah ini juga menjadi tempat menanam teh, meski yang dihasilkan tidak sebanding dengan perkebunan di lain tempat tetapi bukan itu yang dimaksud oleh Belanda, yang dimaksud wilayah ini menjadi wilayah yang ‘berbahaya’ maka perlu diawasi.

Dengan adanya perkebunan teh ini memudahkan Belanda untuk mengecheck setiap waktu. Di wilayah itu pun juga ada bernama Gajihan yang berarti pada saat itu wilayah tersebut menjadi tempat menggaji  karyawan teh.

Di sebuah tangga desa ini pula juga ada wilayah yang disebut dengan dusun Mbedilon, atau bedilon. Menurut kisah mbedilon ini berasal dari kata bedil (baca:senapan) yang dulu tempat itu dimana digunnakkan untuk latihan bedil-bedilan atau latihan menembak. Maka hingga saat ini wilayah tersebut menjadi desa Mbedilon.

Share biar yang lain tau