Satu Click Bikin Asyik

budaya

Memaknai Menep

Memaknai Menep

budaya, Entertainment, Lenggeran
Burung-burung sawah berkicau merdu, kang Jumal kembali memainkan budengannya lirih-lirih. Kang Iman yang berada di sampingnya sedari awal yang memang sudah asyik tandang dongengan sesekali ikut terbawa arus nada-nada indah membuat dirinya liyer-liyer ingin beranjak tidur, namun ini di pematang sawah yang langsung niat pun diurungkan. Ya, memang duduk di atas gubuk sungguh nikmat dan cocok untuk mapan legerengan. “Eh, kang saya njur teringat perihal menep juga, yang dapat diibaratkan menep itu seperti paku yang masuk kedalam. Orang kalau menep itu tidak mudah goyah hatinya.” kata Kang Iman sembari menyandarkan punggungnya di bambu dinding gubuk. “Nah memang seperti itu kang, menep memang sebuah proses pribadi sebagai jalan menuju kepada gusti Allah sebab segala tujuan tak lain kan ya
Berproses Meruwat Diri

Berproses Meruwat Diri

budaya, Entertainment, Lenggeran
Bangbang wetan telah menyongsong tipis tipis dibalik mendung pagi, suara kokok ayam bersahutan dengan ayam-ayam lainnya. Para petani  pun enggan bermalas-malasan diantara dinginnya pagi yang memang sangat cocok untuk melanjutkan pengembaraan dalam bermimpi dan merapatkan selimutnya. Sembari berangkat ke sawah rokok lintingan dengan racikan yang pas dibalut dengan kawung menemani kang Iman, dengan semangat bergegas ke ladang garapannya. Tak lupa cangkul dipundaknya setia menemani perjalanan. Asap kemebul menyertai seperti sedang membakar dupa maupun kemenyan. Ya cukup tebal asap yang keluar dari rokok lintingannya. Bul bul, mengepul kesegala arah. Meski dirinya semalam suntuk berjaga seperti tanggapan wayang namun, tak ada raut lelah terlihat dari wajahnya, malahan yang terliha...
Memaknai Ruwatan #2

Memaknai Ruwatan #2

budaya, Entertainment, Lenggeran
“Wah ternyata pembicaraan kita yang ngalor ngidul ini tak terasa sudah masuk pagi yo lik?.. heuheu.” Tukas kang Iman. “Hehe iyo tak masalah kang, lanjut sampai shubuh kang? “lik Slamet  menimpali. “Hmm, boleh. Tak masalah mau sampai shubuh nanti atau shubuh bulan depan ayo lik..hehe”. Kang Iman menantang. “Woh. Gaya bahasa mu kang kaya iya iyaha.” “Ya memang benar lik, sudah wani tandang ini loh.. heuheu.” “Tadi sampeyan menyinggung bahwa konsep dari ruwatan adalah konsep menghancurkan, saya kok terus teringat pernah baca sekilas artikel yang didalamnya ditulis bahwa mekanisme ruwatan itu bisa terjadi sebagai rasa syukur, Seperti ketika kita memperoleh sesuatu harus kita syukuri.Ambil contoh tradisi diadakannya ruwatan setelah panen padi sebagai wujudterima kasih kita
Memaknai Ruwatan

Memaknai Ruwatan

budaya, Entertainment, Lenggeran
Semburat cahaya rembulan malam itu memantul di atas kolam samping rumah lik Slamet suara kodok ngorek ber paduan suara menambah indah pembicaraan kedua kawan yang sedang menikmati secangkir kopi dengan kepulan asap dari sedotaan rokok kretek bertulis 432 pada bungkus. Tentu ini bukan sebuah bocoran nomor lotre maupun togel atau oleh kebanyakan disebut togel-able. Kang Iman sedari awal menyimak dan mengutarakan beberapa kegelisahan yang dialami bahkan sampai kegelisahan tentang sebuah pil-pilan; pilkades, pileg dan pil lainnya. Lantas memantik obrolan malam dengan menyinggung tentang ruwat. Begini lik, saya pernah mendengar di radio mengenai ruwat, kalau teksnya bagaimana lupa tapi yang jelas ruwat diartikan sebagai ‘membebaskan atau mensucikan atau memulihkan ke dalam keadaan semula
Mari! mengenal Kesenian Pertanu

Mari! mengenal Kesenian Pertanu

budaya, Entertainment, unik
  “...Di hari yang indah yang mulia Dipertemuan ini..//amalkan lah ikhlaskan iman//amalkan sifat puji dalam pergaulan//sholawat dan salam untuk rasul junjungan tercinta//semoga bersama mendapat rahmat dari Ilahi//Shollahu rabbuna ala nurril mubin ahmadan mustofa sayyidin mursalin..” Sayup-sayup terdengar dari microfon sekitar lantunan syair diatas menggema seakan mengudang khalayak datang penasaran untuk bergegas melihat, mendengar, dan merasakan sebuah pagelaran menarik. Sebelumnya satu rombongan muncul setelah bersiap-siap sebelum tampil.  Anggotanya ada lelaki, perempuan, tua muda mendominasi pada barisan, dengan berkostum baju lurik dengan iket bermotif batik menempel dikepala ditambah jarik dipinggang dan yang perempuan dengan baju kebaya dan ditambah jarik pula. Membawa b
Belajar Membaca Diri

Belajar Membaca Diri

budaya, Entertainment, Lenggeran
3 C ? maksudnya gimana itu kang ? Sembari menyeruput kopi di depannya lik Slamet lanjut menjawab pertanyaan kawannya. “Mengenai 3C ini sebenarnya merupakan gambaran cara berpikir yang Cendhek/Cethek – Ciut- Cekak..” “Cendhek berarti pemikirannya pendek, tidak bisa berpikir secara berangkai, tidak memikirkan kelanjutan dari suatu hal dan tindakan dari peristiwa sampai ke depan.” “Ciut berarti sempit dalam berpikir, misalnya kejadian yang sampeyan ceritakan apa-apa langsung bidengah, syirik, kafir beranggapan agam Islam ya hanya tentang ibadah ritual semacam sholat dan puasa saja..” Kang iman manggut-manggut menyimak pemaparan kawannya sambil sesekali nyikat pisang goreng yang dibawanya. Kemudian yang ketiga kang yaitu cekak, pemikirannya dangkal, tidak memiliki landasan lo
Bebrayan Sesrawungan

Bebrayan Sesrawungan

budaya, Entertainment, Lenggeran, What's Hot
Dhuh gones, dhuh gones parikane Adhuh gones wicarane Matur nuwun aja lali Mring Hyang agung Maha Suci Pamrihe, pamrihe padha ngerti Yen uripe diparingi Aja sembah bekti Marang Gusti kang Maha suci Sayup sayup sekilas terdengar suara iringan gamelan bersama selingan parikan dari rumah lik Slamet. Kala itu angin semilir pun tak mau ketinggalan meliuk-liuk seakan menari mengikuti tempo suara yang keluar dari sound system lawas milik lik Slamet. Meski terlihat lawas dan kuno sound system milik sahabat kang Iman ini jangan anggap remeh, sebab sudah dirancang dan di upgrade menyesuaikan zaman now. Lho kok bisa? Tentu bisa. Zaman sekarang apa sih yang tak bisa diubah dibagus-bagusi, wedhus di pupuri, di klambeni atau bisa juga disebut pencitraan? Entahlah. Terpenting s...
Tari Lengger Wonosobo: Berdakwah Melalui Tari

Tari Lengger Wonosobo: Berdakwah Melalui Tari

budaya, What's Hot
Tari lengger merupakan tari tradisional yang biasanya dipentaskan oleh dua orang penari. Satu laki-laki dan satunya perempuan. Penari laki laki memakai topeng dan yang perempuan memakai pakaian tradisional, seperti jarit, sampur atau selendang, dengan diiringi alunan musik gamelan, seperti bonang, saron, gong, kenong, kendang, dsp serta diselingi dengan tembangan-tembangan (syair) mengenai ajaran Islam yang Rahmatan lil ‘alamin dan nilai-nilai kebaikan. Menurut Eko Prasetyo, selaku pegiat seni Lengger, tari topeng atau Lengger merupakan kesenian khas masyarakat Wonosobo. Hal itu karena banyaknya grup kesenian tari topeng, atau biasa disebut tari lengger di Wonosobo. salah satunya grup “Mitra budaya” Garung yang digelutinya dalam melestarikan budaya leluhur. Yoga Prihationo selaku bud
Sinau parikan, menyemai harapan #2

Sinau parikan, menyemai harapan #2

budaya, Entertainment, Lenggeran, What's Hot
“Berbicara mengenai parikan, dan harapan saya jadi teringat waktu itu kang, ketika belajar mabur.” Celetuk Lik Slamet. “Wah, masak si lik sinau mabur kaya muridnya Barsesa saja sampean lik. Heuheu” ejek Kang Iman tak percaya. “Lho, sampean menyepelekan saya ya hehe..” “Lah, masa zaman now sinau kok sinau mabur kan gak masuk akal. Kang Iman masih tak percaya.” “Zaman sekarang kan ada kata no pict = hoax nah mumpung sampean sela coba praktekkan lik?“ “Ayoo lik tas-tes! ..” Tantang kang Iman. “Begini begini kang, duduk dulu yang tenang, sah grusa-grusu kaya kit zaman nou saja sukanya instan.. heuheu..” “Monggo sambil disambi kopinya, sik tenang.” Tukas lik Slamet mempersilahkan kang Iman, lalu melanjutkan pembicaraanya. “Mengenai sinau mabur jadi sebenarnya memang bena
Ndhedher parikan, menyemai Harapan

Ndhedher parikan, menyemai Harapan

Breaking News, budaya, Entertainment, Lenggeran, What's Hot
Sambil menyeruput kopinya yang sedari tadi hanya dilihat saja menemani cuaca dingin di lereng Sindoro. Lik Slamet lalu melanjutkan pembicaraanya dengan kawannya. Memang di lereng gunung Sindoro-Sumbing memang hawa dingin sangat mudah dijumpai namun masyarakat sangat mudah bercengkrama dengan hawa dingin, menyesuaikan dengan kondisi tersebut, dari menyeduh kopi maupun teh tetapi dengan genen( menghangatkan badan dengan membakar kayu) sambil dongengan menjadi sebuah kehangatan sendiri bagi masyarakat lereng gunung. "Kita perlu ndedher mengenai parikan lengger sebenarnya kang.. Maksudnya lik?" Tanya kang Iman.. "Ya ndedher, ndedher itu menyemai jika bersanding dengan katresnan, maka bisa diartikan sebagai menyemai sebuah kasih sayang atau cinta kang. Jika menggunakkan bahasa tanam...