Satu Click Bikin Asyik

Bersyukur bisa ngaji dengan Mbah Kyai Amin Sholeh#2

DIASPORA ISLAM DAMAI – 8
(Bersukur bisa ngaji dengan Mbah Kyai Amin Sholeh)

Oleh: Ahmad Muzan MPd.I

Banyak sekali pertanyaan yang bermunculan saat dilaksanakan dialog zakat, namun mirip dengan bahtsul masail. Penulis yang masih awam sekali dengan kitab kuning, harus bergonta ganti mengatur jalannya dialog agar berjalan dengan lancar. Sesekali mengutip ucapan akhir dari para peserta yang mengambil ibarat dari kitab klasik.

Mbah Kyai Amin nampaknya tahu betul ketidak ‘becusan’ moderator dalam mengatur dialog. Sehingga di tengah diskusi beliau berbisik dalam telinga moderator, ‘wis jarno, kabeh urusanku, anggep wae koe ngaji’. Begitu terngiang dalam dalam ingatan penulis hingga saat ini.

Ada satu catatan yang menarik dalam dialog zakat itu, beliau tetap berpegang teguh bahwa para Mustahiq itu ya, sebagaimana yang delapan asnaf, penjabarannya sebagaimana dalam kitab kitab kuning. Muncul suatu pertanyaan dari salah satu peserta, apakah boleh uang zakat digunakan untuk membangun madrasah atau kemaslahatan umat, . Kyai yang lowprofile ini menjawab dengan entengnya, sambil tersenyum. Mengandung makna yang tersirat dalam senyumannya.

Sambil berseloroh beliau mengatakan, lha membangun madrasah ada tidak dalam delapan asnaf itu. Maka serentak hadirin tertawa, dengan joke joke beliau guyonan ala santri.

Selanjutnya beliau menjawab dengan menukil hasil bahsul masail pada Munas Alim Ulama di Kaliurang yang memunculkan dua pendapat. Pertama dengan jawaban tidak boleh sebagaimana dasar dari madzhab empat, dengan mengutip kitab Bughyatul Musytarsidin dan juga Mizan Kubro, . Dinyatakan juga bahwa zakat penyaluranya tidak boleh kecuali kepada orang muslim yang merdeka.

Beliau juga menyampaikan pendapat yang membolehkan Zakat digunakan untuk kepentingan sosial, dengan mengutip Syekh Ali Al maliki dalam kitab Qurrotul Ain, dan juga pendapat Imam al Qoffal yang membolehkan penyaluran zakat pada seluruh sektor sosial selama dalam kerangka fi Sabilillah. (Selengkapnya lihat hasil Munas Alim Ulama NU pada 1981 di Kaliurang).

Begitulah jawaban yang sangat moderat dan cerdas dikemukakan oleh beliau.
Selesai acara tersebut, penulis diminta untuk ikut merumuskan dari hasil dialog, dan menginventarisir oertanyaan yang belum terjawab untuk selanjutnya diserahkan kepada beliau. Melalui jawaban tertulis beliau kemudian memberi jawaban dengan dikirim menggunakan kilat khusus.

Ada satu catatan bagi penulis dalam diri Kyai yang lowprofile ini, mampu mengakomodir keinginan pemikiran yang progesif dan pemikiran yang teks ansih. Sehingga teks fiqh terlihat begitu kenyal jika berhadapan dengan masalah yang bersifat cabang, namun begitu tegas jika menyangkut masalah masalah yang bersifat pokok. Sungguh hal ini hanya akan dimiliki oleh para Ulama yang sudah mengalami hasil penyerbukan yang begitu lama, dan menghasilkan kebijakan yang menyejukkan bagi umat. Lahul fatihah.

Bersambung

Wonosobo, 8 Ramadlan 1439

Share biar yang lain tau