Satu Click Bikin Asyik

Berproses Meruwat Diri

Bangbang wetan telah menyongsong tipis tipis dibalik mendung pagi, suara kokok ayam bersahutan dengan ayam-ayam lainnya. Para petani  pun enggan bermalas-malasan diantara dinginnya pagi yang memang sangat cocok untuk melanjutkan pengembaraan dalam bermimpi dan merapatkan selimutnya.

Sembari berangkat ke sawah rokok lintingan dengan racikan yang pas dibalut dengan kawung menemani kang Iman, dengan semangat bergegas ke ladang garapannya. Tak lupa cangkul dipundaknya setia menemani perjalanan. Asap kemebul menyertai seperti sedang membakar dupa maupun kemenyan. Ya cukup tebal asap yang keluar dari rokok lintingannya. Bul bul, mengepul kesegala arah.

Meski dirinya semalam suntuk berjaga seperti tanggapan wayang namun, tak ada raut lelah terlihat dari wajahnya, malahan yang terlihat raut sumringah seperti sedang menyimpan getaran getaran kegembiraan dibalik wajahnya.

Dari kejauhan di pematang sudah nampak kang Jumal yang sedang duduk di gubung tengah sawah bersanding dengan sebilah bambu yang di anyam, disebutnya koangan, bisa juga bundengan. Sesekali memainkannya dengan memetik senar mapun dengan memtikbelahan bambu kecil yang telah distel dengan nada yang pas di gathukkan dengan nada kendang, gong, maupun bendhe.

Kang Iman yang sejak awal menyimak temannya sedang asyik bermesraan dengan budengannya hanya menyimak dari jarak dua petak tanah di samping gubuk, menonton temannya melantunkan beberapa parikan.

“Nandur jahe ning galengan/ayo urip bebarengan/sing kuning-kuning ra patiya/sing ireng duwekke sopo..” duwekke aku..” sahut kang Iman sembari mendekati kang Jumal sambil cekikikan.

Kang Jumal yang mendengar kang Iman menanggapi tembangannya lanjut nyeletuk, “Woalah sampeyan ya kang nyaut saja kaya angin, bikin kaget saja..”

“kikiki, sampeyan serius sih, saya dari  tadi duduk menyimak dari atas sana sampeyan nggak respon. Tandas kang Iman sembari merapat ke gubuk.

“Loh sampeyan nggak tau orang yang sedang meresapi larik per larik tembang lengger ini..” kang Jumal membela diri.

“Whahaha iya kang siap, saya tak ndereaken saja..”

“Kelihatannya sampeyan seperti lagi gembira sekali kang, dari raut wajahnya kelihatan memancar kegembiraan.”Tanya kang Jumal.

“Whohoho… sampeyan kaya dukun kang, bisa membaca suasana hati orang saja.“ timpal kang Iman.

“Ya jelas dong kang. sudah kelihatan kang dari perilaku sampeyan sejak awal.. heuhueu.. bagaimana si ceritanya?” Kang Jumal basa-basi.

“Ya lagi senang saja kang hari ini seperti mendapat energi untuk menjalankan aktivitas saja, kaya tambah semangat pokoknya. Ditambah tadi  malam dongengan bareng lik Slamet perihal ruwat yang saya tangkap ya merubah dari suatu  keadaan ke keadaan yang lebih baik kan, nah saya seperti mendapat energi dan semangat lebih dalam diri ini untuk berproses menuju yang lebih baik lagi kang.” kang Iman mbeber kegembiraanya.

“Wah jadi begitu to, berarti sama halnya seperti pagelaran yang pernah saya lihat juga kang.”

“Pagelaran apa sih kang?”kang Iman penasaran.

“Itu loh kang, kalau tak salah dengar pagelaran ini merupakan salah satu karya kontemporer yang menampilkan cerita Hangruwat kolaborasi antara wayang, gerak tari dan musik bundengan. Pokoknya menarik kang.”

“Nuansa khusyu’ pun dapat kita dapati ketika menyaksikan pagelarannya. Secara filosofi hangruwat adalah merubah menjadi lebih baik, sama halnya yang sampeyan kemukakan tadi, dalam proses prosesnya pun tidak main-main kang, seorang dalang pun yang dipilih tak sembarangan, dengan pertimbangan harus menep, andap asor dan lainnya kang. ” jelas kang Jumal sembari memaikan bundengannya.

Surabaya, 8 Desember 2018

Share biar yang lain tau