Satu Click Bikin Asyik

Belajar Humanisme dari Romo Mangun

Oleh: Ahmad Muzan MPd.I

Romo Mangun atau nama lengkapnya Yusuf Bilyarta Mangunwijaya adalah pribadi penuh ketangguhan dan kegigihan. Ketangguhan dan kegigihannya diwujudkan dalam membela harkat dan martabat manusia. Terutama rakyat kecil-miskin yang terpinggirkan.

Seandainya Indonesia memiliki deretan orang seperti Mangunwijaya, barangkali iklim dan suasana bangsa kita lebih semarak. Paling tidak, makin banyak saksi dan pelaku sejarah pembela kemanusiaan ditengah hiruk-pikuknya individualisme.

Sekitar tahun 1992 penulis ditugaskan oleh kawan kawan senior di sebuah majalah kampus untuk mengikuti pelatihan pers mahasiswa nasional di IAIN Suka (sekarang UIN). Pada kesempatan itu, penulis diberi tugas untuk mewawancarai salah seorang tokoh besar pembela “kaum pinggiran” yang sedang banyak diperbincangan para aktifis dan tentunya penguasa. Ia adalah Romo Mangun. Bertemu dengan Romo Mangun, yang lahir tanggal 6 Mei 1929 di Ambarawa, Jawa Tengah, laksana bertemu dengan esensi dan hakikat.

Karya-karyanya merefleksikan hakikat manusia, baik di bidang sosial, politik, agama dan budaya. Ungkapan dan kata-katanya membawa pada kesadaran akan citra dan hakikat kemanusiaan sendiri.

Perjuangannya terhadap kemanusiaan direalisasikan lewat pengabdian pada sesama. Misalnya, perbaikan rumah dan tempat tinggal kaum tersisih yang berada di pinggir Kali Code, Yogyakarta. Walaupun ia seorang pastor Katolik, namun pengabdiannya pada sesama tidak terbelenggu konvensi primordialistik keagamaan.

Sepak terjang Romo Mangun tidak terbatas hanya perbaikan fisik kaum papa, namun juga menyangkut aspek vital yaitu pemberdayaan – sumber daya manusia. Berbagai macam buku sebagai penunjang pemberdayaan juga disediakan, sehingga “menggeluti” bahan pustaka menjadi tradisi sekaligus bagian dari hidup mereka.

Keinginannya tinggal bersama kaum miskin itu karena ia tahu pasti bahwa sesuatu yang ingin dimiliki kaum miskin adalah harga diri. Kaum itu memerlukan orang yang bisa diajak berbincang dan berbagi rasa.

Dalam bahasa yang paling gampang adalah mereka boleh miskin secara fisik dan lingkungan, namun mereka tak boleh miskin hati. Untuk keperluan itulah Romo Mangun meninggalkan pastoran dan memilih hidup bersama mereka.

Tindakan nyata yang merupakan cerminan dari pemikiran tersebut adalah ketika Romo Mangun menolak rencana penggusuran penghuni kawasan kumuh Kali Code pada tahun 1980-an. Ia pun rela mogok makan untuk menolak penggusuran itu. Dengan lantang ia menyuarakan kepada pemerintah daerah yang hendak melakukan penggusuran bahwa masyarakat Kali Code bisa memperbaiki pemukimannya sendiri asal diberi kesempatan.

Tercatat ada tiga peran yang ia lakukan untuk memperbaiki pemukiman warga Kali Code. Pertama, ia berjasa dalam mengubah mentalitas membuang sampah sembarangan masyarakat bantaran Kali Code. Dalam mengubah sikap seseorang atau sekelompok orang, tentunya hal yang paling mendasar untuk dilakukan adalah dengan mengubah mentalitas. Hal ini disadari betul oleh Romo Mangun.

Namun baginya bicara saja tak cukup, sehingga memberikan teladan kepada masyarakat Code adalah cara yang tepat. Romo Mangun tinggal dan membaur dengan anggota masyarakat Kali Code selama 6 tahun masa pendampingannya. Ia mengamati dan memahami perilaku masyarakat Kali Code, kemudian memberi teladan lewat lisan dan tindakan bagaimana merawat lingkungan.

Kedua, inisiasi perbaikan tata pemukiman dan lingkungan bantaran Kali Code ia tempuh, sehingga hasilnya kawasan itu menjadi bersih dan tertata.

Keterlibatan Romo Mangun dalam revitalisasi Kawasan Code sangatlah vital. Sebagai seseorang yang pernah belajar arsitektur di ITB dan merupakan lulusan Rheinisch-Westfaelische Technische Hochschule, Aachen, Jerman, Ia menyumbangkan daya kreatifitasnya dalam merancang konsep hunian,desain rumah, dan tata pemukiman yang dianggap layak.

Material bahan bangunan yang akrab dengan rakyat, seperti bambu sebagai tiang, gedeg (anyaman bambu) sebagai tembok, serta seng sebagai atap dipilih untuk mengisi bangunan.

Ketiga, bersama dengan dua orang temannya, Romo Mangun merupakan pendiri Yayasan Pondok Rakyat (YPR). YPR merupakan wadah pemberdayaan masyarakat dalam bidang lingkungan dan pendidikan kritis melalui pendekatan sosio-kultural.

Organisasi ini menjadi semacam jembatan bagi sekelompok orang dengan latar belakang profesi yang berbeda, mulai dari arsitek, agamawan, intelektual, penulis, dan seniman untuk mengaktualisasikan ilmunya dalam pemberdayaan masyarakat bawah.

Dalam perkembangannya meliputi program pemberdayaan komunitas melalui aktivitas belajar alternatif dalam sanggar kampung, mengembangkan media komunitas dalam bentuk buletin kampung, dan pengembangan ruang publik yang disebut dengan nama Kampung Permagangan; kegiatan riset dan advokasi komunitas perkotaan; serta pengembangan database informasi tentang kampung kota melalui dokumentasi dan perpustakaan kota.

Sejak tahun 2003, YPR telah bekerja sama dengan 6 kampung kota dalam pemberdayaan komunitas dan penataan lingkungan kampung kota.

Romo Mangun telah menjadi pahlawan bagi masyarakat Kali Code, Yogyakarta yang berhasil membantu mereka mengubah lingkungannya menjadi lebih bersih dan tertata, serta yang tak kalah penting adalah perannya dalam membuat masyarakat kecil Kali Code lebih berdaya secara sosio-kultural, sehingga mereka bisa mengubah nasibnya sendiri.

Hal ini dapat dijadikan inspirasi untuk kita semua, terutama bagi pemerintah dan elemen masyarakat terdidik untuk bekerja sama menyumbangkan keahliannya dalam mengentaskan rakyat dari belenggu kemiskinan dan kebodohan melalui pemberdayaan. Inilah inti dari pembangunan yang sebenarnya dengan menyentuh aspek kekuatan humanisme.

Bukan hanya itu, keterlibatannya dalam mendampingi masyrakat Kedung Ombo yang terkena genangan air, hingga membawa penyudutan pada dirinya. Karya arsitekturnya, pengadaan sarana pengairan di daerah Grigak dengan memberdayakan masarakat, dan mendirikan SD Mangunan adalah beberapa bentuk nyata dari seorang manusia yang rela mengorbankan dirinya untuk kepentingan kemanusiaan.

Meminjam Gus Dur, “Sosok Romo Mangun adalah pribadi yang mampu memancarkan sinar kasih keimanan dalam kehidupan umat manusia. Dalam dirinya, keimanan tidak sekadar terbelenggu dalam sekat-sekat ritual agama atau simbol-simbol semata.

Lebih dari itu, cinta kasih keimanan Romo mampu menembus sekat-sekat formalisme dan simbolisme. Dia kasihi dan dia sentuh setiap manusia dengan ketulusan cinta. Inilah yang menyebabkan Romo Mangun mampu hadir dalam hati setiap manusia, karena dia telah menyentuh dan menyapa setiap manusia.”

Share biar yang lain tau